Wisuda VS Jilbab – antara Ideologi dan Kompetensi

“Nah…begini kan cantik kamu nak!”

“Puspa ga mau begini Ma….jilbab puspa kok dimasukin toga. Ga rapi malah. Ga syari lagi”

“Halah….biarin. yang penting kamu kelihatan cantik hari ini. Kan wisuda ini momentum paling bagus buatmu.”

“Iya..tapi Ma…”

“Udah ah…ngebantah terus kamu. Sana gabung sama temen-temenmu. Pasti mereka terpukau lihat kamu”

…………………………………………………………………………………………………..

“Assalamualaikum Bun….”

“Alaikumussalam warahmatullah….Murni sayang, Bunda minta maaf ya nak, ga bisa hadir di wisudamu. Kamu sudah terima jilbab yang Bunda kirim kan? Bagus ga ?”

“Bagus Bunda. Cantik ! Murni suka. Panjang dan tebal Murni terasa makin anggun pakai jilbab dari Bunda. Murni juga merasa aman karena jilbab ini menutupi sebagian besar toga”

“Dan pastinya putri Bunda lebih cantik. Sukses ya sayang. Semua mendoakan dari rumah. Jangan lupa foto wisudamu. Wassalamualaikum”

“Alaikumussalam warahmatullah….”

…………………………………………………………………………………………………..

Kurang lebih dua percakapan unik itu yang sering kita jumpai pada hari penting wisudawan. Khususnya wisudawati. Mungkin para pembaca akan lebih sering menemui hal-hal yang serupa dengan kedua peristiwa tadi. Tepatnya bentuk pergulatan antara sebuah keyakinan dengan realita kehidupan yang memang tidak semulus jalanan ibukota. Saat-saat dimana sikap, yang menjadi representasi atas semua ideologi yang kita pegang kuat, harus dihadapkan pada situasi yang menabrak konsistensi prinsip hidup manusia. Menarik…sangat menarik.

Saudaraku, kejadian di atas hanyalah sekelumit realita kehidupan yang ada di antara rimba semesta. Situasi tadi hanyalah satu dari sekian banyak episode dunia yang membuktikan adanya godaan untuk menggoyang seberapa kuat konsistensi kita dalam memegang prinsip kehidupan. Dengan kalimat keimanan, bisa dikatakan kejadian di atas adalah bukti ujian-ujian hidup akan selalu menimpa manusia pada level keshalihan manapun.

Tentulah ilustrasi di atas jauh dari upaya untuk mendakwa atau menyalahkan. Tapi marilah kita melihat lebih dalam lagi. Prinsip hidup setiap muslim yang bersumber dari keimanan akan selalu mengalami rayuan atau godaan. Tidak bisa tidak. Hal ini adalah sebuah janji yang sudah jauh-jauh hari diberitahukan-Nya kepada manusia. Simaklah dalam firman Allah SWT berikut ini

“ Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Q.S. Al Ankabuut :1-3)

Hanya saja sikap sebagai akibat dari ujian itulah yang membuat derajat keimanan manusia berbeda-beda di hadapan-Nya. Karena sikap inilah yang, sekali lagi, benar-benar menunjukkan kedalaman pengetahuan dan keyakinan atas iman yang sudah diupayakan. Banyak manusia gagal mempertahankan semua aspek ideologis yang telah dipupuk dalam hati ketika semua bahan bakar hidup itu dihadapkan untuk menyelesaikan keadaan hidup. Padahal saat itu adalah waktu untuk membuktikan kompetensi dari idealisme, paham, atau apapun yang kita sebut sebagai prinsip hidup.

Kesenjangan antara ideologi dan kompetensi yang terjadi tidak akan mengakibatkan apapun selain membuat goyah struktur keyakinan manusia. Secara umum untuk objek di luar manusia tersebut (manusia lain, yang berinteraksi dengannya) dan secara khusus akan sedikit demi sedikit melunturkan idealisme dan keyakinan bagi penganutnya. Banyak peristiwa yang akan selalu meminta bukti kompetensi dari Islam yang kita anut. Di saat itulah pertarungan yang sesungguhnya akan terbukti. Karena kita semua pahami bahwa risalah ini hanya berisi kebenaran.

Dakwah Islam yang semakin menyebar saat ini tentu haruslah menjadi jawaban atas semua pertanyaan kehidupan manusia. Dalam sektor apapun dan spektrum kehidupan sekecil apapun. Mulai kehidupan individu maupun dalam skala negara. Dari bidang ekonomi sampai pada politik. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk mempertahankan izzah (harga diri) keislaman kita. Karenanya setiap kemungkinan bisa terjadi. Berhasil ataupun gagal menjadi peluang pilihan yang sama kuat. Dari sini mari kita mulai dari akhir agar kita mampu memvisualisasikan konsekuensi yang akan didapat. Kalaulah Islam secara komprehensif bisa membuktikan kompetensi sistemiknya dengan baik tentu akan melahirkan tingkat kepercayaan, keyakinan, dan ketertarikan manusia untuk berislam dengan benar. Lebih lanjut lagi Islam akan mampu menjadi sistem hidup yang secara sadar dan ikhlas diadopsi dengan utuh. Namun bagaimana jika semua hal itu tidak terjadi ?

Dengan kalimat sederhana tentu kontradiksi yang akan terjadi. Jika demikian apa pilihan kita sebagai umat Islam ? (AA)

Category: Sastra
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.Both comments and pings are currently closed.
2 Responses
  1. AKHMAD AKBAR says:

    oh…begitu mbak ?? hehehehe….mbak nur kuliah di mana ?

  2. nurussadad says:

    wew… kebetulan nama temen sejurusan Puspa