Jalan Cinta

“Bang,tolong bang……tolongin adek…”,suara dari hp kesayanganku memecah keheningan di laboratorium ukuran 3×3 ku,sekaligus tempat istirahatku.

“Ada apa? Suaramu….kok panik banget dik??”,tanyaku memastikan.

“Cepet kesini bang…ke kontrakanku,cepet bang…tolong..”,balas Mia sesenggukan menahan tangis.

“Bah!! Malam-malam gini? Bisa-bisa digerebek hansip abangmu ni…gimana kau ni,emangnya ada apa dek…bilanglah kau….jangan panik dulu..coba baca bismillah dulu,tenang dulu ”,aku menolak dan berusaha menenangkan.

“Masya Allah bang…adikmu ni dalam bahaya bang…,aku takut bang…harga diriku…tolong bang..”.

“Apa? Baik,tunggu sepuluh menit lagi..”,aku mengakhiri percakapan.

Langsung kuraih jaket dan topi hitam di atas komputer. Ku sedikit berlari menuju kamar Bang Husnain.

“Bang…bang Husnain…sudah tidur belum? Bang,Aun masuk ya?!”,ku setengah berteriak sambil menggedor-gedor kamar bang Husnain

“Apalah kau ni dek…tak tahu kau ni sudah malam??”,dia sedikit membentak.

“Sudah,nanti aja abang marahnya,yang penting sekarang kita ke kontrakan Mia dulu. Dia dalam bahaya bang! Cepat…”,aku berusaha menjelaskan.

“Hah?Mia? kenapa dia?bahaya apa?jangan bercanda kau…”

“Apa Aun bakal gedor-gedor pintu abang malam-malam gini  cuma buat bercanda? Nanti aja penjelasannya.”,sambil kutarik-tarik tangannya.

“Tapi..ini sudah larut Un. Kau kayak tak kenal adab Islam saja! Apa kata dunia kalau Aun,adikku yang hitam manis ini ke rumah cewek malam-malam begini?”

“Adikmu ini masih waras Bang. Cuma Mia sendiri yang telepon dan minta ditolong,dia minta kita datang kesana. ”,aku berusaha mempercepat diskusi ini.

“Iya,sebentar…ku ambil kunci motor dulu…”

Bagaikan serdadu yang mendapat panggilan perang,bang Husnain sigap dengan memakai jaket kebanggaannya,almamater SMA Taruna Nusantara,Magelang. Lalu dia mengarahkan motornya. Dalam tiga menit kami sudah ada di jalan.

“Jangan ngebut-ngebut Bang! Adikmu ini belum nikah tahu….”,ku protes atas style naik motornya.

“Bah,malam-malam gini kau bilang nikah…sudah,kalaupun kita syahid malam ini,kita bisa nikah dengan bidadari surga kan? Bingung-bingung kali kau ini.”,bang Husnain menjawab.

Itulah yang kusuka dari abangku yang satu ini. Meski kasar,tapi terasa mantap imannya. Dia sering menemaniku di saat-saat sulit yang kuhadapi.Berapa kali dia menjemputku di stasiun ketika ku datang. Mengajariku ilmu strateginya. Mulai dari politik sampai cara belajar dan menata hati. Sering kali dia kupanggil dengan nama “Umar”. Bentuk rasa hormatku atas karakter Umar ibnul Khattab yang ada pada dirinya.

Uniknya,dia juga sering memanggilku dengan nama Al Farouq. Padahal harusnya itu adalah sebutan yang sama untuk Umar ra.,jadi seharusnya dia juga yang dapat panggilan itu. Ah….indah dunia ini kalau saja semua ukhuwah (hubungan) seperti aku dan Bang Husnain.

Menit berikutnya kami semakin dekat ke rumah kontrakan Mia. Sepanjang perjalanan kami ditembaki dengan rahmat Allah,butiran-butiran air hujan yang lembut. Tanda cinta kasih-Nya. Hatiku berdebar. Begitu banyak yang ada di kepalaku. Mulai dari tugas kuliah,tugas kerja,kerinduan pada orang tua,hingga mencari cara berdamai dengan seorang sahabat.

Tapi yang menjadi prioritas di pikiranku adalah kata-kata Mia di telepon. Harga diri? Apa maksudnya? Dia juga takut. Dia dalam bahaya. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Ya Allah,lindungi saudaraku…”,gumamku lirih

“Heh,jangan bengong kau! Yang mana ini gang rumahnya?”,bang Husnain mengagetkanku.

“Itu Bang,yang ada gapuranya. Warna hijau!”

Aku pun mulai memasuki gang besar yang menjadi jalan utama masuk ke rumah kontrakan Mia. Watugong tulisan di gapura besar itu. Lalu kulihat pemandangan yang cukup janggal. Ada dua mobil mewah parkir tepat di depan rumah kontrakan Mia.

“Astaghfirullah…..”,ucap bang Husnain sambil mengerem motor.

“Apa-apaan nih….”,setengah sadar kalimat itu terlontar dari mulutku.

Pemandangan buruk yang belum pernah kulihat sebelumnya. Di teras rumah Mia ada empat orang laki-laki seusiaku bermain kartu domino. Asap tebal rokok,juga minuman alkohol harga mahal mengelilingi mereka. Andai aku dan bang Husnain diizinkan-Nya melihat iblis,aku yakin akan ada banyak iblis yang ikut berpesta dengan mereka.

Ternyata tak hanya itu. Di ruang tamu kulihat ada dua…bukan…ada tiga pasangan muda-mudi sedang bermesraan. Jijik ku melihatnya. Perempuan-perempuan itu berpakaian mini sekali. Alhamdulillah ku langsung teringat bahwa melihat aurat orang lain adalah haram. Segera saja kulemparkan pandanganku ke orang-orang yang ada di teras tadi.

“Bah! Ini rumah Mia apa club malam?”,bang Husnain mulai geram.

“Tahan Bang! Kita kesini bukan cari ribut tapi selamatin adik,selamatin Mia! ”, kuredam sambil meraih tangannya.

“Bismillah….Assalamualaikum warahmatullah…”,kuawali dengan sunnah Rasulku.

“Ada apa ya mas,kok malam-malam kesini? Cari siapa?”,salah satu dari mereka menjawab.

Tunggu dulu,aku mengenalnya. Namanya Miki. Anak Jakarta yang lama tinggal di Malaysia. Aku menjadi bingung. Salamku tak dijawabnya,tapi yang membuatku lebih kaget,dia paham ini sudah malam. Hanya saja,kenapa dia ada di rumah ini.

“Loh..?! kau tahu ini sudah malam,ngapain lu ada disini?”,bang Husnain mulai terprovokasi.

“Heh….lu ditanya kok malah nyolot (marah)sih?”,Miki pun terprovokasi.

“Sabar-sabar…kami kesini mau cari adik kami. Namanya Mia,ada nggak?”,buru-buru kusela.

Mendengar hal itu pasangan-pasangan muda di ruang tamu tadi berhamburan ke luar,ke teras. Tampak teman-teman kos Mia ketakutan melihat kami berdua.

“Maaf mbak,saya kakaknya Mia,mau ketemu dia. Mia ada nggak?”tanyaku pada salah satu teman kos Mia.

Sebelum ada jawaban atas pertanyaanku,Mia keluar dari pintu belakang. Dia tergopoh-gopoh. Wajahnya pucat. Sangat mencerminkan ketakutan.

“Assalamualaikum bang….”,Mia menyapa ramah.

“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh…”,jawabku dan bang Husnain hampir bersamaan.

“Terima kasih sudah mau datang Bang. Maaf malam-malam mengganggu waktu istirahat abang berdua.”

“Tak apalah…ada apa dengan kau?”,tanyaku.

Adikku ini tidak mengucapkan apapun untuk menjawabku. Dia diam,menunduk. Terasa berat sekali untuk menjawabku. Sesaat kemudian,Mia mengangkat wajahnya dan menitikkan air mata. Dia terlihat lelah sekali.

“Bawa pergi Mia dari sini Bang. Mia takut…takut sekali Bang…Mia …..Mia…”,ucapnya sambil mengusap air mata.

“Kenapa dik? Ada yang kurang ajar dengan kau? Bilang saja,yang mana orangnya? Ada di sini nggak?”, tegas Bang Husnain.

“Bukan Bang…tapi…..tapi….Mia…..Mia….Mia takut Bang!”,jawab Mia ketakutan.

“Ada apa kau dik??”,Tanya Bang Husnain penasaran.

Kulihat ada sebuah hal yang disembunyikannya. Berat sekali. Tapi ku tak tahu apa yang terjadi. Pikiranku sekarang hanyalah ingin menyelamatkan adik kelasku ini.

“Sudahlah Bang…mana motormu dik?”,aku menyela.

“Itu Bang,yang warna biru. Maaf Bang,ini kuncinya. Mia nggak berani bawa motor malam-malam”,Mia menjawab.

“Ya sudah nggak apa-apa. Mia  dibonceng  Bang Husnain ya! Biar abang naik motor kau”,jawabku.

“Ya Bang,terima kasih”,jawab Mia lemah sekali.

Kulihat Bang Husnain memandangiku. Seakan ingin berkata bahwa dia tidak ingin membonceng Mia. Aku sangat paham batasan muhrim. Tapi ini sangat darurat. Kalau tidak segera dibawa pergi,aku khawatir akan keadaan Mia.

“Mia mau ke mana?”,tanya Riska,salah seorang teman kosnya.

“Mia nggak tahu. Mia sudah nggak betah disini. Takut……”,jawab Mia sambil menangis.

Aku semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi di rumah kontrakan adik kelasku ini. Tapi,kalau memang keadaannya setiap hari seperti yang kulihat sekarang ini,wajarlah Mia tidak nyaman. Hanya saja…..apakah dia menjadi takut gara-gara itu? Sudahlah,yang penting Mia selamat dulu.

Kuputar arah motor Mia. Lalu mendekatlah seorang perempuan paruh baya. Sekitar usia ummi (ibu)ku. Dia menatapku,lalu Mia.

“Mau kemana Mia?”,tanyanya.

“Ikut abang Mi…”,jawab Mia.

“Kenapa? Di sini kan banyak kawanmu. Ikutlah kumpul-kumpul disini. Kenapa harus ikut abangmu?”,jawab ibu tadi yang dipanggil Mami oleh Mia.

“Nggak perlu Mi,saya mau ikut abang saya saja.”,tolak Mia.

“Ah,kamu takut ya? Kenapa takut! Ayolah,jangan kuper gitu! Kamu kurang gaul banget sih!”,tegas Mami.

Inalilahi…..aku seakan baru mendengar kalimat dari seekor naga besar yang siap menerkam tubuh Mia. Mana mungkin seorang Ibu yang seharusnya mengayomi adikku ini malah mengatakan Mia tidak gaul jika tidak berkumpul dengan orang-orang macam yang kulihat ini. Aku beristighfar berkali-kali dalam hati. Mana mungkin,aku tidak percaya dengan kalimat ibu tadi. Sungguh tidak percaya.

“Ayo Mia,cepat! Sudah larut.”,Bang Husnain berkata.

“Baik Bang!”

“Mari semuanya….Assalamualaikum”,aku berpamitan.

Muak aku melihat rumah itu. Aku menatap wajah bang Husnain penuh kemarahan. Sedangkan wajah Mia meneriakkan ketakutan. Aku tak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi. Tapi aku bersyukur,adikku telah kubawa pergi dari rumah bak sarang penyamun itu.

“Mia mau dititipkan ke siapa Un?”,bang Husnain menanyakan hal yang berikutnya menjadi pikiran utamaku.

“Hhmmmm……”,aku bingung mau menjawab apa.

Kemana Mia harus berada di hampir tengah malam ini. Tak mungkin dia kuajak ke tempatku dan Bang Husnain. Tapi kemana? Aku berpikir keras,hingga….

“Bang,Mia kita titipkan ke tempat Tsuqofa aja,temanku yang dulu pernah ketemu di toko buku itu.”,Allah mengilhamkan aku untuk berkata itu.

“Tapi…gimana ini,kan sudah larut sekali. Bisa-bisa kau dimarahi habis-habisan oleh dia. Bukankah kau lagi marahan dengannya. ”

Ah,aku bingung lagi menjawabnya. Bang Husnain tahu betul siapa saja sahabatku. Salah satunya dengan sahabat dekatku,Cici Tsuqofa. Kami berasal dari kota yang sama. Hanya saja dari SMA yang berbeda. Dia dari SMA 8 sedangkan aku dari SMA 1.Beberapa hari yang lalu memang aku ceritakan semua yang terjadi pada Bang Husnain tentang pertengkaranku dengan Fafa,panggilanku untuk sahabatku itu. Tak kusangka Bang Husnain masih ingat. Padahal aku saja sudah lupa apa yang menjadi sebab pertengkaran kami.

“Baik,kalau bukan ke tempat Fafa,abang punya pilihan tempat yang lain?”,aku balik bertanya.

“Aku bingung dik…baiklah kita coba saja ke tempat Fafa. Tapi kau yang bilang ya!”,jawab Bang Husnain.

“Baiklah Bang,kita coba. Masa demi keselamatan saudarinya dia tetap keras hati? Bismillah….”

“Maafin Mia bang! Jadi merepotkan abang berdua.”,Mia menyela.

“Bah,janganlah kau bilang gitu. Abangmu memang punya kewajiban mengurusmu juga. Tak perlu kau sungkan dengan abang-abangmu ni….”,kental sekali aksen Bang Husnain.

“Ya Mi…nggak apa-apa kok!”,aku mencoba tersenyum pada adikku tanpa melihat wajahnya.

“Terima kasih bang..”,Mia menjawab lirih.

Kami bertiga berada di depan gang rumah Fafa. Kutarik nafas panjang. Lalu kuhubungi dia lewat telpon. Aku menjadi gugup. Takut dia akan marah ditelpon seorang ikhwan (sebutan untuk saudara laki-laki dalam bahasa arab) larut malam seperti ini. Tapi,kemarahannya padaku akan ikhlas kuterima asalkan Mia menjadi aman. Kutenangkan hatiku dan kuucap basmalah sebelum ku memulai percakapan.

“Tuut…..tuut….tuut…..”,tak kunjung diangkatnya telponku.

Selang beberapa waktu akhirnya ada sebuah sms yang kuterima. Kulihat sms itu dari Fafa.

“Assalamualaikum wrwb. Ada apa malam-malam missedcall? Kurang kerjaan ya?”,bunyi sms itu.

Aku kaget. Ternyata dia masih marah. Tapi ini lebih baik daripada dia mematikan hp-nya. Lalu kubalas sms tadi.

“Maaf Fa,boleh Aun bicara sebentar dengan Fafa? Sebentar saja. Penting,ini darurat sekali!”

“Darurat?? Oke…telpon saya lagi…”,Alhamdulillah…Fafa mengizinkan aku bicara di sms balasannya.

“Assalamualaikum Fa….”,kumulai percakapan.

“Alaikassalam warahmatullah..ada apa Un?”

“Begini Fa,ada adik kelas saya. Perempuan. Dia sedang ada masalah di rumah kontrakannya. Dia sekarang ada di sampingku. Boleh saya titipkan adik saya ini untuk malam ini? Saya bingung mau dititipkan ke siapa lagi? Gimana?”,jelasku.

“Sekarang antum ada di mana?”

“Saya ada di depan gang rumahmu. Bisa ke sini? Afwan”

“Tunggu di sana. Jangan ke mana-mana. Ana  tiga menit lagi sampai di sana.”,Fafa membolehkan Mia ada di tempatnya malam ini.

“Jazakillah khoir…”

“Waiyakum. Wassalamualaikum”,Fafa mengakhiri percakapan.

Beberapa waktu berselang Fafa hadir di hadapan kami bertiga. Dia tidak sendiri. Ditemani salah seorang teman yang tidak kukenal. Mungkin juga adik kelasnya.

“Assalamualaikum….”,Fafa menegur kami.

“Waalaikumussalam,maaf sudah mengganggu istirahat anti Fa.”,aku menjawab.

“It’s okay,no problem for me. Yang mana Un adik yang antum maksudkan tadi? Oh ini ya…siapa namanya dik? Cantik kali…..”,dasar Fafa! Dia memang jagoan kalau disuruh pakai jurus akrab untuk menambah saudara. Walaupun keadaan malam dan agak gelap,masih saja bisa menangkap kesan wajah Mia yang cantik menurutnya.

“Saya Mia kak. Adiknya bang Aun.”,jawab Mia.

“Adik kelas maksudnya.”,aku menambahkan.

“Maaf ya kak Fafa,saya jadi merepotkan kakak juga. Mohon maaf….”,Mia berkata sambil menahan tangis.

“Hei,nggak masalah kok. Adik jangan bersikap begitu. Saya nggak merasa direpotkan.”,jawab Fafa sambil mencoba mendekap tubuh Mia. Seakan dia menangkap sebuah perasaan yang sedang Mia rasakan.

Kulihat Fafa dan Mia cepat sekali akrab. Mungkin juga karena sama-sama perempuan. Jadi punya “frekuensi” yang sama tentang masalah hati. Aku jadi lupa kalau aku baru saja bertengkar dengan sahabatku ini. Alhamdulillah.

“Kami pamit ya! Fa,saya titip adik saya. Jazakillah,semoga Allah membalas kebaikanmu.”,aku mencoba mengakhiri pertemuan itu.

Fafa tidak menjawab sepatah katapun. Dia hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. Seakan tak mau aku tahu bahwa dia sedang tersenyum.

“Motormu abang bawa dulu ya dik.”,pintaku pada Mia.

“Ya bang,bawa aja dulu. Nanti Mia hubungi abang lagi ya! Terima kasih banyak bang. Maaf sudah merepotkan”,jawab Mia seraya akan memelukku. Untung saja tubuhnya ditarik kembali oleh Fafa.

“Nggak apa-apa kok. Sudah ya,Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”

“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”,jawab mereka bertiga hampir bersamaan.

Kutinggalkan mereka bertiga dengan penuh rasa syukur pada Allah. Syukur karena sudah memudahkan aku dan Bang Husnain menyelamatkan Mia dari keadaan bahaya. Meskipun hingga menjelang tidur pun aku tetap tak tahu apa sebenarnya bahaya yang dimaksud Mia.

___________________________________________________________

Hari berikutnya menungguku dengan seabreg aktivitas. Kuliah yang sangat padat. Tugas dan tugas,serta mengajar di kelas praktikum komputer harus kukerjakan hari ini. Tidak bermaksud mengeluh,hanya saja aku berdoa Allah memberikan fisik yang prima untuk semua aktivitasku.

“Jangan lupa minum vitamin dik!”,Bang Husnain mengingatkanku.

“Sukron katsiraan Bang!”,kusampaikan terima kasihku.

Kulewati jalan pintas menuju kampus. Sebenarnya jalan yang tidak terencana akan menjadi jalan utamaku dan teman-teman. Tapi tak ada lagi jalan yang menghubungkan kami dengan kampus jika bukan jalan itu.

Ku berjalan cepat. Lebih tepatnya terasa lebih cepat daripada teman-temanku. Ini bukan rekayasaku. Kebiasaanku berjalan dari rumah ke sekolah sejak SMP,membuatku seperti ini. Bahkan ada yang sering nyeletuk dengan perkataan,”Aun,si manusia bayangan” ataupun sebutan “The Black Shadow”  untuk gelarku pada prestasi berjalan. Ah,itu tidak penting bagiku. Hanya saja kadang ku merasa risih mendengarnya.

“Un…Aun…ke sini dulu!”,panggil kak Indra.

“Assalamualaikum,ada apa ya kak? ”,aku mendekat seraya menjabat tangannya.

“Begini,gue mulai minggu ini sampai semester ini abis ada proyek di perusahaan di Cibinong. Lu mau gak gantiin saya ngasprak di kelas produksi? Jadwalnya hari ini,jam sebelas nanti. Gimana?”

“Ehmm….terus kakak nggak ngasprak gitu?”,tanyaku.

“Eh…maksud gue kita switch jadwal gitu!”,jelas kak Indra.

“Bentar kak,saya lihat jadwal dulu…..hari Selasa ya?….ehm…..”,aku melihat jadwal di handphone.

“Bisa ya…..! Please….”,pinta kak Indra.

“Baik,insya Allah bisa kak….”,jawabku mengiyakan.

“That’s my man….thank you very much brother…I love you dah…makasih ye..daahhh!”,kak Indra berlalu.

“I love you??? Aneh kali ini orang. Untung cowok,kalau cewek…hhmmmm….bisa gawat ini”,mulutku berucap.

Yayaya….bertambah lagi jadwalku hari ini. Tapi,tetap tersenyum dan berpikir positif adalah jurusku menghadapi keadaan sesulit apapun. Salah satunya hari ini.

“Ayo Un…you are the best…you are winner….kamu dilahirkan untuk jadi pahlawan..bukan pecundang..!”,ucapan itu kulontarkan sebagai pelecut semangatku.

Kumantapkan langkah menuju ruang proyektor. Kutemui Pak Sholeh dan kupinjam alat-alat yang kuperlukan untuk mengajar di kelas produksi.  Beliau terlihat kurang sehat. Kerutan di dahinya,juga rambutnya yang kian memutih membuatku merasa kasihan. Aku juga menjadi teringat ayah dan ibu di rumah. Aku merindukannya. Aku bertekad mala mini akan kutelpon beliau berdua.

Sepanjang perjalanan menuju lab aku mulai sadar,kelas produksi mana yang akan menjadi partner belajarku hari ini? Bukankah di kampus ini ada tiga jurusan produksi? Ah…aku lupa menanyakannya pada kak Indra.

Aku buru-buru menuju lab untuk mempersiapkan bahan presentasiku hari ini. Alhamdulillah,aku sampai setengah jam sebelum kelas dimulai. Dengan sigap kusiapkan semua bahan dan peralatan untuk mengajar. Tapi malang,spidol yang kubawa dari kantor tidak ada yang berfungsi.

“Assalamualaikum,teh Euis,boleh pinjam spidol nggak? Punya saya abis semua nih…!”,aku bertanya pada teh Euis,petugas lab.

“Waalaikumussalam,ambil aja di dekat meja pemindai,Un! Tapi jangan lupa dibalikin ya!”,teh Euis mengizinkan.

“Oke bos…tenang aja,kembali kok tiga-tiganya.”

Ku kembali ke kelas. Segera saja ku belajar apa yang menjadi bahan praktikum hari ini. Jam menunjukkan 10.50. Satu demi satu mahasiswa kelas produksi hadir. Entah kenapa,banyak mahasiswa yang selalu suka duduk di belakang. Aneh,aneh bagiku. Bukankah duduk di depan lebih terasa pemahaman terhadap materinya? Ah,sudahlah.

Sampai akhirnya kulihat…….Fafa…ya…itu Fafa…..

“Loh…ini kelas produksi ternak ya?”,ku bertanya pada salah seorang diantara mereka yang sudah duduk di kursi lab.

“Iya kak…memang kakak salah masuk ya? Kan biasanya yang ngajar kak Indra?”,jawabnya.

“Bukan,saya nggak salah masuk. Mulai hari ini saya yang gantikan kak Indra. Cuma saya nggak tahu aja ternyata ini kelas produksi.”,aku menjelaskan.

Kumulai kelas dengan berdoa. Kulihat dia berada pada jarak tiga meter. Aneh,apa dia tidak melihatku. Atau jangan-jangan dia masih marah? Sudahlah,kulanjutkan kelas praktikum sesuai rencana.

“Kak,kalau komputernya minta password gimana?”,salah seorang praktikan menanyakan padaku.

“Hhm…kalau minta password,ya kasih aja. Gampang kan?”,jawabku dengan maksud bercanda.

“iya ya….”,jawab praktikan tadi,yang akhirnya kutahu namanya Susi.

“Alah,kau Sus. Begitu saja kau tanyakan. Bilang saja ingin kenal dengan asisten barunya kan…hayo ngaku !”,sahut Gagah.

Keadaan kelas pun mulai riuh dengan suara tawa dari hampir setiap orang di kelas. Kulihat wajah mereka ceria sekali. Pun dengan Fafa. Dia tersenyum simpul. Namun segera mengubah bahasa mukanya ketika aku melihat senyuman itu.

Dua jam yang menyenangkan. Kami belajar banyak hari itu. Terutama aku. Sungguh banyak yang bisa kudapatkan dari mengajarku. Komunikasi,pemahaman yang lebih,juga menawarkan ide-ide yang ada di pikiranku pada mereka.

“Baik,praktikum hari ini cukup ya. Sebagai akhir kita berdoa dulu. Semoga yang kita pelajari bermanfaat dunia akhirat. Berdoa dimulai !”,ucapku.

“Selesai ! Baik,mohon maaf atas semua kesalahan. Minggu depan kita ketemu lagi ya,Insya Allah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”,jawab mereka hampir bertepatan.

Kubereskan semua peralatan sembari menjawab pertanyaan- pertanyaan yang disampaikan padaku mengenai komputer. Sekali lagi,ku mendapat ilmu yang lebih lagi. Justru seharusnya aku berterima kasih atas pertanyaan mereka. Sayangnya aku tidak dapat mengatakan itu secara langsung.

“Un,Fafa tunggu di bawah,sama Mia ya. Cepat ke bawah kalau sudah selesai. Ada yang harus dibicarakan.”,suara Fafa.

“Ba..baik,Fa. Insya Allah”,aku cukup kaget.

Mia? Dia di bawah? Berarti mereka sudah membuat janji. Ada yang harus dibicarakan? Mungkinkah tentang semalam. Tapi apalagi kalau bukan itu. Ku segera bergegas. Aku yakin apa yang menjadi topik pembicaraan nanti adalah hal penting.

“Sampai minggu depan,bang !”,ujar Susi sambil keluar dari kelas.

“Iya..sampai ketemu lagi ya !”,jawabku.

Lalu aku pun beranjak keluar. Langkahku semakin cepat. Bagaikan seekor kuda perang yang ingin segera hadir di medan laga. Sampai-sampai hampir saja kulupakan pinjaman spidol dari teh Euis tadi.

“Bang,cepat kali abang jalan. Seperti ingin ketemu bidadari saja.”,Susi lagi yang kutemui.

“Bidadari? Amin ! semoga ya. Tapi abang sedang ditunggu kawan dan adik. Kasihan kalau lama menunggu. Duluan ya !”,jawabku.

“Okelah,hati-hatilah kau Bang !”,Susi berujar lagi.

“Terima kasih.”

Akhirnya kutemui sebuah bangku yang sudah terisi dengan tubuh Mia dan Fafa. Ku melangkah ke arah mereka.

“Assalamualaikum,afwan. Lama nunggu ya?”,sapaku.

“Waalaikumussalam,tak apalah Bang. Mia tahu abang baru jadi dosen muda kak Fafa bukan?”,Mia menjawab.

“Ah,apalah kau ucap itu. Abang sholat dzuhur ya. Biar lebih enak ngobrolnya.”,aku pun meminta izin meninggalkan mereka.

“Ya Bang. Tapi jangan lama-lama. Abang ni kalau sudah sholat kadang bagai orang tertidur. Lamaaa…..kali. Banyak doa ya?  ”

“Masya Allah…ya harus lama dong. Kan ketemu dengan Sang Kekasih. Jadi harus lama dan mesra. Ya kan Fa?”,jawabku.

“Hhmm…..mungkin. terserah kaulah Un. Awak ni ikut pendapat kau saja.”,Fafa menjawab sedapatnya.

“Bah…masih marah kau gara-gara buku kemarin tu? Bukankah sudah satu minggu yang lalu? Marah kan cuma boleh sampai tiga hari.”,nadaku semakin meninggi.

“Sudah…sudah. Sholat dululah kau Un. Kita mau bahas hal penting ni. Sudah sana,lenyaplah kau cepat.”

“Ya sudah…yang penting awak kan sudah minta maaf. Terserah kaulah.”

“Afwan…”,jawab Fafa lirih.

Ku beranjak ke mushola di dalam perpustakaan. Bersih,sejuk,dan harum. Nyaman ku dibuatnya. Alhamdulillah,ada Bang Husnain di sana. Setelah selesai sholat,kuajaklah Bang Husnain menemaniku untuk bertemu Mia dan Fafa.

“Bismillah,baik. apa yang ingin kita bicarakan hari ini?”,aku memulai diskusi kami.

“Hhmmm…..”,gumam Mia sembari memandang wajah Fafa. Sepertinya ada hal besar yang ingin disampaikan. Hanya saja tertahan pada tenggorokannya,berat untuk menjadi suara.

“Baik,begini Un.”,Fafa pun memulai. Kulihat tangannya berada pada pundak Mia. Terkesan seperti ingin mengamankan dan memberi semangat.

“Soal Mia. Dia ingin mengatakan sebab dia tidak ingin ada di rumah kontrakannya lagi. Dia…dia takut.”,lanjut Fafa.

“Takut? Ya,awak tahu tentang hal itu. Cuma Mia takut apa? Ucaplah sendiri dik. Di sini kau aman,Insya Allah. Sampaikan saja.”,ucapku meyakinkan Mia.

“Baik,begini Bang. Hampir setiap malam,di rumahku itu selalu ada laki-laki yang datang. Mulai teman laki-laki dari Mami maupun teman dari rekan-rekanku itu?”

“Maksud kau teman laki-laki Riska?”,Tanya Bang Husnain.

“Bukan hanya Riska,Bang. Hampir semua rekanku itu membawa temannya ke rumah. Ada yang jadi pacarnya bahkan. Aku risih kali Bang !”,ujar Mia.

“Hampir setiap hari? Ada apa di sana?”,aku penasaran.

“Ya,cuma ngobrol bang. Tapi itu dalam waktu yang lama. Bahkan tak malu-malu lagi laki-laki itu menginap satu kamar dengan rekan-rekanku serumah. Kata mereka,sudah jadi seperti keluarga. Jadi ya biasa-biasa saja.”

“Bah,menginap pula?”,tanyaku dengan kesan membentak. Aku tak percaya yang kudengar dari mulut Mia.

“Lalu..?”,Bang Husnain bertanya lagi.

“Belum lagi kalau tamu dari Mami hadir. Bisa menginap sampai tiga hari. Bahkan,maaf Bang. Tidur sekamar. Itu yang membuat Mia merinding ketakutan. Mia makin merasa tidak tenang ada di sana.”

“Inalilahi….parah kali keadaan di rumah kau,dik?”,aku merespons.

“Iya bang,dan tadi malam itu puncak ketakutan dan rasa kesalku pada mereka. Aku merasa tidak aman. Harga diriku seakan sudah tidak mereka pikirkan. Mereka juga sering meminjam kamarku untuk hal yang tidak aku tahu. Rekanku sering membawa teman laki-lakinya ke kamar. Itu sangat….sangat membuatku takut Bang.”,Mia berucap sambil menangis.

“Sudah,Mia…jangan menangis ya. Insya Allah Mia sudah aman kok !”,Fafa menenangkan.

“Baiklah,sekarang yang penting kayak mana ini solusinya?”,Bang Husnain langsung pada pemikiran solutif.

“Aun kira,yang penting Mia ni segera pindah dari rumah kontrakannya. Biar cepat fokus ke kuliah lagi,Bang !”

“Awak juga setuju dengan kau,Un”,Fafa menegaskan.

“Dari tadi,kudengar anti  ni setuju-setuju saja dengan pendapat awak. Tak adakah ide lain? Sukanya selalu ikut-ikutan.”,protesku.

“Ini lain ceritanya. Kan boleh sepikiran dengan antum Un. Cemmana pula antum ni.”,Fafa pun sedikit marah.

“Masya Allah….apa-apaan kalian ini. Jadi berantem di sini. Ini tulagi diskusi soal keselamatan dan studi Mia. Malah kalian adu mulut. Hah….makin pusing abang ni.”,Bang Husnain melerai.

“Bukan berantem,Bang. Memang gini kalau kita lagi diskusi. Kayak orang mau perang sajalah.”,jawabku sambil tersenyum.

“Begini saja Bang,Mia biar kos di rumahku saja. Lebih aman kok. Disamping banyak teman juga. Jadi Mia tak kesepian. Gimana? Mia mau kan?”,Fafa bertanya pada Mia.

“Sebenarnya Mia juga ingin seperti itu Kak. Cuma Mia takut lebih merepotkan nanti.”,jawab Mia sambil merangkul Fafa.

“Eits,siapa yang direpotkan? Nggak kok. Kakak senang ada adik baru di rumah.”,ucap Fafa sambil membelai kepala adik barunya itu.

“Bah,mesra kali kalian ni. Aduh…sakit..!”,ternyata kaki Bang Husnain menginjakku. Supaya ku diam barangkali.

“Baik,soal rumah sudah beres. Jadi kapanpun kau ingin pindah ke tempt Kak Fafa,panggillah dua abangmu ni ya dik?”,kata Bang Husnain.

“Baik,bang Insya Allah. Terima kasih banyak semuanya. Terima kasih !”,jawab Mia.

“Alhamdulillah,sudah selesai bukan diskusi kita?”,tanyaku.

“Cepat-cepatlah kau pindah ya dik. Insya Allah lebih nyaman dengan Kak Fafa. Jangan malu untuk minta ilmu dan bantuannya. Apalagi ‘minta lemaknya’. Dan kalau kau ingin tidur,tak usahlah kau bawa bantal-guling. Cukup tidur sekamar saja dengan kakak kau itu,hahaha…..”,candaku.

“Apa? Enak kali kau bilang. Menghina ya! Awas saja nanti kalau aku jadi kurus,tak kan kau kenali lagi. Biar tahu rasa antum Un.”,Fafa marah.

“Bah,awak ni cuma bercanda Fa. Janganlah kau marah seperti itu.”,aku meredam.

“Tapi,bang. Kak Fafa ini tipe orang yang menurut istilah sekarang,’Big is beautiful’. Meski besar dan agak lebar,tapi tetap saja cantik dan keren.”,Mia ikut dalam bincangan kami berdua.

“Tuh,dengar adik kau Un. Mia ini berucap jujur. Tapi,jadi malu kakak Mi !”,tegas Fafa.

“Ya..ya..ya.. awak ni ikut sajalah.”,ucapku sembari menahan tawa.

“Sudah-sudah,kita pulang yuk! Sudah hampir ashar ini.”,ajak Bang Husnain yang juga tersenyum mendengar bincang kami tadi.

Kami berempat berjalan menuju rumah masing-masing. Tapi,aku berpisah dengan rombongan itu karena ada yang harus kukembalikan ke kantor jurusan. Dalam hatiku,sangat bersyukur dan mengucap Alhamdulillah. Karena kutahu benar bahwa Mia sudah aman dan insya Allah nyaman. Di samping terselamatkan dari ancaman di rumah lamanya,juga karena dia ada di dalam pengawasan Fafa. Aku tahu betul sikap Fafa untuk adikku.

_____________________________________________________________

“Bang,ayo cepat berangkat. Yang lain sudah ada di lapangan lho. Bisa-bisa kita tak dapat shaf depan nanti. Ga serulah Bang !”,teriakku pada Bang Husnain.

“Iya sebentar lagi. Harus perfect dong. Kan mau ketemu Allah.”

Takbir idul qurban itu sahut menyahut. Menggetarkan dada yang kecil ini. Semakin dekat dengan tempat sholat,hatiku makin menangis. Terasa benar kasih sayang Allah pada hamba-hamba-Nya.

Kulihat ratusan orang berjalan menuju tempat yang sama. Sebuah tempat lapang yang berada di dalam kampus. Ku teringat suasana idul adha di rumah. Senangnya jika ada abi dan ummi di sampingku.

Aku,Bang Husnain,dan kawan-kawan serumah pun menjadi salah satu kafilah yang ikut memenuhi jalan-jalan menuju tempat sholat. Sekitar pukul 7.30,rangkaian sholat ied dan khutbah dimulai. Sungguh baik khutbah yang disampaikan Ustadz Boro. Semakin menambah keimanan dan keyakinanku pada Islam,alhamdulillah.

Usai khutbah,para jamaah bersalam-salaman. Tradisi saling meminta maaf yang sangat kusuka. Untuk membuat ukhuwah antara kami semakin mantap dan mengikis kesalahpahaman yang mungkin pernah terjadi.

“Un,lihat un ! lihat siapa yang datang”,aku pun membuang pandangan ke arah yang ditunjukkan Bang Husnain.

“Siapa itu Bang? Sepertinya tak asing…..hah…itu……kan….”

“Mia….?”,sahutku dan Bang Husnain bersamaan.

Kulihat dia berjalan ke arah mendekati kami. Dengan diiringi Fafa. Ada yang berbeda. Jilbabnya….jilbabnya rapi sekali. Panjang dan semakin membuat adikku ini anggun. Sungguh berbeda sekali sebelum terakhir kali kutemui. Dia belum memakai jilbab.

“Assalamualaikum Bang. Mia mohon maaf atas semua khilaf Mia ke abang berdua.”,Mia mengawali percakapan kami.

“Waalaikumussalam,iya abang berdua juga minta maaf pada kau ya dik.”,ucap Bang Husnain.

“Sejak kapan Mia pakai jilbab? Kok abang tak tahu?”,tanyaku penasaran.

“Sejak Mia jatuh cinta untuk ke sekian kalinya pada Rabb kita,Bang. Cinta yang disampaikan dari kak Fafa. Cinta yang ternyata membuat Mia semakin paham dengan kenikmatan cinta itu sendiri.”,jawab Mia terharu sembari menggenggam erat tangan Fafa.

“Subhanallah…barakallahu ukhtina Mia.”,jawabku.

“Jazakalloh khoir akh Aun.”,balasnya.

Bahagia terpancar dari wajah kami berempat. Kuacungkan ibu jariku pada Fafa sebagai tanda terima kasih,penghargaan,dan ucapan selamat karena telah menjadi jalan hidayah bagi Mia. Semoga mendapat keberkahan.

Fafapun membalasku dengan ikut pula mengangkat ibu jarinya padaku. Rupanya inilah cinta yang telah disiapkan-Nya pada adikku. Liku-liku sebuah perjalanan cinta yang sungguh sangat indah. Bukan hanya karena keunikan skenario Allah tapi juga karena aku menjadi saksi hadirnya cinta itu di hati adikku,Mia. Maha Suci Engkau Ya Rabb. Engkaulah Yang Maha Tahu dan mencintai kami.

Category: Sastra
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.