Standarisasi, Kompetensi, dan Spesialisasi

Sungguh, manusia dan dunia saat ini sangat pantas untuk berterima kasih pada Islam. Di tengah keterpurukan multidimensi akibat banyaknya penyimpangan, Islam masih tetap hadir dan setia menjaga nilai-nilai kebaikan untuk memuliakan manusia. Karenanya, semakin yakinlah kita atas informasi dari Allah SWT bahwa Islam, yang risalahnya ditutup oleh Muhammad SAW, memang menjadi rahmat dan kasih sayang bagi alam semesta.

Rasulullah SAW membawakan dan mengajarkan Islam tidak hanya sebagai sebuah agama. Tapi benar-benar suatu cara dan paham untuk hidup. Islam menjadi pedoman cara berjalan, makan, tidur, berumah tangga,  bermuamalah, memenuhi hajat ekonomi, pendidikan, bermasyarakat, kolektivitas produktif, negara, hingga menjadi suatu kiblat kehidupan : peradaban.

Oleh karena agama ini mempunyai misi agung dan besar, Rasulullah SAW paham benar, bahwasanya risalah ini tidak akan tersampaikan kemuliaannya jika diusung oleh orang-orang dhaif (lemah) dan persepsi yang beragam (tentang Islam). Maka langkah pertama yang dibangun oleh beliau adalah mendidik modal terbesar untuk dakwah Islam : manusia. Masyarakat, sebagai kumpulan manusia, yang hadir dari berbagai macam latar belakang, suku, tingkat pendidikan, kekayaan, status sosial, dan variabel demografi yang lain digiring oleh Rasulullah SAW untuk menjadi masyarakat berpendidikan dan berwawasan Islam. Beliau mencetak manusia dan masyarakat dengan suatu standarisasi, yakni iman dan ketakwaan.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujurat : 13).

Sehingga, kala itu, yang menjadi “madzhab” status sosial bukanlah prinsip-prinsip duniawi dan jahiliyah. Namun, atas alasan keimanan. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi mulia, terhormat, serta diperhitungkan di dunia dan akhirat. Tidak ada sebab yang bisa membuat manusia nista, rendah, dan hina selain keterpurukan iman dan taqwanya kepada Allah SWT.

Tidak berhenti sampai di situ. Rasulullah membentuk masyarakat Islam yang benar-benar memiliki taring untuk mengolah daging kehidupan. Bukan hanya menjadi manusia dan umat yang “asal hidup” namun tidak jelas tugas dan misi kehidupannya. Setelah penyeragaman yang dilakukan Rasulullah SAW kepada masyarakat Islam, maka saatnya memunculkan kekuatan-kekuatan yang dimiliki individu-individu umat Islam dalam setiap aspek kehidupan. Karena setiap manusia yang lahir ke dunia ini memiliki kemampuan yang beragam. Kecerdasan, kematangan berpikir, kebijaksanaan, daya emosi, dan sifat-sifat unggul manusia yang dimiliki umat Islam ditampung, diberdayakan, dan diberi tempat untuk beraktualisasi. Wadah itu yang kita sebut jamaah. Rasulullah SAW membangun suatu jamaah yang di dalamnya terkumpul semua kebaikan. Itulah upaya pengasahan kompetensi. Ada bagian jamaah Islam yang dididik Rasul menjadi ahli ilmu, di sisi yang lain ada yang terdidik menjadi ahli perniagaan. Ada juga yang menjadi ahli dalam bidang qital (perang), namun di saat yang sama ada yang menjadi ahli hukum Islam yang di kemudian hari menjadi rujukan ulama-ulama fiqh. Begitu seterusnya hingga muncullah mutiara-mutiara cantik yang sebelumnya berada di kubangan lumpur hitam.

Hasil akhir dari 23 tahun tarbiyah Rasulullah kepada para shahabat dan umat Islam saat itu adalah manusia-manusia dengan spesifikasi kepakaran di berbagai bidang. Namun tetap berdiri di atas suatu standar keimanan dan ketaqwaan yang baik. Inilah yang disebut spesialisasi. Kelompok atau jamaah yang disusun oleh manusia brilian Islam itu tercatat dalam sejarah mampu mencitrakan Islam benar-benar sebagai rahmat untuk sekalian alam. Sejarah mendokumentasikan prestasi manusia-manusia mulia ini dengan sangat apik. Lihatlah, bagaimana Umar ibn Khattab, yang dahulunya memusuhi Islam, di masa kepemimpinannya mampu mengIslamkan dua pertiga dunia. Atau simaklah prestasi cucunya, Umar ibn Abdul Aziz. Hanya dalam waktu 22 bulan, beliau mampu membuat seluruh umat Islam di saat itu bebas dari status mustahik (orang yang berhak menerima zakat). Ini dikarenakan kesejahteraan dan kemakmuran yang menyeruak dalam kehidupan kaum muslimin.

Tinta emas prestasi umat Islam memang  pernah terjadi, hidup, dan nyata. Prestasi itu jauh dari fiktif. Namun, jika kita berkaca pada hari ini, rasanya keadaan itu jauh dari jangkauan. Jangan menyalahkan sunnatullah atas pergiliran kemenangan umat manusia yang Allah SWT janjikan, tapi marilah kita curiga pada setiap diri kita. Hasil prestasi umat Islam saat ini yang minimalis, jangan-jangan salah satunya adalah akibat dari ketidakmampuan kita menstandarisasi diri dan masyarakat, tidak memunculkan kompetensinya, sehingga tidak lahir manusia-manusia dengan spesialisasi yang baik. Dengan kata lain, inilah syarat untuk menghadirkan kembali kejayaan Islam. Dengan membenahi variabel yang diajarkan Rasul pada masa lalu. Mulai dari diri, keluarga, dan masyarakat. Wallahua`lam bishowab.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.